Pertandingan AC Milan menghadapi Como pada Kamis (19/2/2026) di San Siro diwarnai ketegangan luar biasa antara Massimiliano Allegri dan Cesc Fabregas. Laga yang berakhir imbang 1-1 ini bukan hanya menyorot performa pemain, tetapi juga konflik emosional di pinggir lapangan.
Tensi panas kedua pelatih sebenarnya sudah terlihat sejak pertemuan sebelumnya, ketika AC Milan menang 3-1 atas Como di Stadio Sinigaglia pada 15 Januari 2026. Fabregas tampak tidak puas dengan hasil tersebut, sementara Allegri menunjukkan gestur ketegangan yang mulai menarik perhatian media.
Malam tadi, situasi semakin memanas. Kedua pelatih saling adu argumen di pinggir lapangan, sementara para pemain berusaha fokus pada pertandingan. Insiden ini menjadi sorotan utama media Italia dan penggemar Serie A karena jarang terjadi cekcok terbuka antara pelatih papan atas di kompetisi ini.
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
Kronologi Insiden
Menurut laporan Football Italia, awal cekcok terjadi saat Fabregas terlihat menjangkau garis tepi lapangan dan diduga menarik atau mendorong Alexis Saelemaekers saat bola masih hidup. Winger AC Milan itu bereaksi keras, memicu respons dari staf Como yang ikut berdebat dengan Allegri.
Menariknya, wasit tidak menyaksikan aksi awal Fabregas, sehingga kartu merah justru diberikan kepada Allegri dan salah satu staf Como. Keputusan ini memicu reaksi keras dari pelatih AC Milan. Allegri sempat melontarkan sindiran bahwa lain kali ia mungkin akan melakukan tekel kepada siapa pun yang melewatinya.
Situasi ini menunjukkan betapa cepatnya emosi bisa meningkat dalam sepak bola, khususnya saat pertandingan berlangsung sengit. Konflik di area teknis bukan hanya tentang taktik, tetapi juga psikologi pelatih dan pemain yang terlibat langsung di lapangan.
Baca Juga: Cadillac F1 Habiskan Rp335 Miliar untuk Rilis Livery di Super Bowl
Fabregas Minta Maaf
Selepas pertandingan, Fabregas langsung meminta maaf melalui wawancara dan konferensi pers. Ia mengakui tindakannya tidak sportif dan menekankan pentingnya pelatih menjaga sikap di pinggir lapangan, mengutip pernyataan Cristian Chivu sebelumnya.
Fabregas juga menyatakan bahwa ia memahami reaksi Allegri dan berharap insiden seperti ini tidak terulang dalam kariernya sebagai pelatih. Permintaan maaf ini diterima sebagian besar pengamat sebagai langkah positif untuk meredakan ketegangan.
Laporan dari Sky Sport Italia dan DAZN Italia menyebut bahwa meskipun Fabregas meminta maaf, ketegangan belum sepenuhnya reda. Keduanya kembali bertukar kata-kata panas sebelum konferensi pers dimulai, menunjukkan rivalitas yang tetap hidup di Serie A.
Rivalitas Emosional Serie A
Insiden ini menambah panjang daftar rivalitas emosional di Serie A. Pertemuan antara Milan dan Como kini tidak hanya dikenal karena permainan di lapangan, tetapi juga drama di pinggir lapangan yang melibatkan pelatih ternama.
Kejadian ini menegaskan bahwa pertandingan sepak bola Italia sering dipenuhi emosi tinggi, baik dari pemain maupun pelatih. Publik pun semakin menantikan pertemuan berikutnya antara kedua tim, yang kemungkinan akan tetap panas.
Bagi Allegri dan Fabregas, pengalaman ini menjadi pelajaran tentang pengendalian emosi di pinggir lapangan. Bagi penggemar, insiden ini justru menambah sensasi dan drama dalam kompetisi Serie A, menjadikan laga lebih menarik untuk diikuti. Simak terus pembahasan olahraga terupdate lainnya hanya di sportsadonai.com.
